Skip to content

Analisis Penilaian Versi Quick Count

21 Juli, 2014

QUICK COUNTANALISIS HASIL PENILAIAN

 

  1. Analisis hasil penilaian.

Analisis hasil penilaiandilakukan untuk mengetahui siswa yang sudah tuntas dan yang belum dan selanjutnya disusun program tindak lanjut, yakni program remedial dan pengayaan.  Analisis ini harus dilakukan pada SEMUA PENILAIAN, SEMUA KELAS (bukan hanya SAMPEL). Analisis dilakukan dengan cepat, segera setelah penilaian dilakukan, karena hasilnya segera untuk menentukan siswa yang sudah tuntas dan yang belum mencapai batas KKM.

Karena harus dilaksanakan dengan cepat maka diperlukan format dan cara yang khusus; QUICK COUNT atau Hitung Cepat. Adapun langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Hasil penilaian/ nilai dimasukkan ke dalam daftar nilai yang terintegrasi dengan format analisis hasil penilaian.
  2. Tandai nilai yang tidak mencapai KKM dengan menggunakan stabilo.
  3. Hitung nilai yang tidak mencapai KKM, dan tuliskan pada kolom yang sudah disiapkan.
  4. Hitung persentase siswa yang tuntas dengan rumus:

X 100%

  1. Hitung persentase siswa yang tidak tuntas dengan rumus:

X 100%

  1. Hitung daya serap dengan rumus:

X 100% atau Nilai rata-rata X 100%

Contoh format analisis hasil evaluasi yang menyatu dengan daftar nilai seperti berikut (KKM 70).

Contoh Analisis Hasil Penilaian dengan Quick Count

NO. INDUK NAMA Utama Remedi
1 Alif  45
2  Beta 90
3  Cahya 80
4  Delta 70
5  Elfi 60
6  Fana 50
7  Giant 55
8  Heri 75
9  Indah 80
10  Jaja 100
11  Kalam 70
12  Lola 55
13  Muna 85
14  Naomi 95
ANALISIS HASIL PENILAIAN Jumlah 1010
Rata-rata 72
Nilai Tertinggi 100
Nilai Terendah 45
Sdev 17
Jumlah Siswa 14
Jumlah Siswa Remedi 5
Jumlah Siswa Pengayaan 9
% Daya Serap 72%
% Ketuntasan 64%

 

  1. Analisis Butir Soal.

Ada dua kepentingan guru melaksanakan analisis butir soal, sebagai berikut:

  1. Untuk mendapatkan soal yang valid, baik untuk ulangan harian, ulangan tengah semester, atau ulangan akhir semester. Analisis butir soal ini sering disebut juga telaah soal (Permendikbud No 66 tahun 2013). Sedangkan soal untuk ujian akhir sekolah atau ujian nasional diperlukan analisis empiris.

Soal yang dianalisis adalah hasil uji coba atau ulangan harian, atau ulangan tengah semester.

 

  1. Untuk mengetahui butir/indikator mana yang sudah atau belum dikuasai siswa.

Soal yang dianalisis adalah hasil ulangan harian, ulangan tengah semester atau ulangan akhir semester. Untuk itu semua hasil penilaian dari semua kelas yang diampu seorang guru harus dianalisis. Pelaksanaannya harus segera setelah penilaian dilakukan, karena hasilnya akan dipergunakan untuk menentukan apakah siswa harus mempelajari KD yang sama atau KD berikutnya.

 

Analisis butir soal bisa secara manual, dengan kalkulator, atau dengan software komputer. Untuk mengetahui apakah soal tertentu sudah dikuasai siswa atau belum bisa dengan Quick Count, cara yang sangat sederhana dan cepat. Salah satu caranya adalah dengan menanyakan kepada siswa yang menjawab benar suatu butir soal, guru menentukan tingkat capaian penguasaan dan mencatat hasilnya. Perhatikan contoh berikut, dengan jumlah soal 10, dan jumlah siswa 32.Ketuntasan klasikal butir soal dihitung dari jumlah siswa yang menjawab benar soal tersebut > 75% siswa. Soal dikategorikan mudah bila > 70% siswa menjawab benar sedang bila > 30% – < 70% dan sukar bila kurang dari 30% siswa yang menjawab benar.

 

Contoh Analisis Butir Soal dengan Quick Count

NO. SOAL JUMLAH
BENAR
% TUNTAS/
TIDAK
MUDAH/ SUKAR Keterangan
1 30 94% T Md T= TuntasTT= Tidak Tuntas

 

Md= Mudah

Sd= Sedang

Sk= Sukar

2 8 25% TT Sk
3 29 91% T Md
4 25 78% T Md
5 28 88% T Md
6 24 75% T Md
7 14 44% TT Sd
8 10 31% TT Sd
9 27 84% T Md
10 25 78% T Md

 

Dari analisis butir soal versi quick count tersebut diketahui ada 7 soal (No 1, 3, 4, 5, 6, 9, dan 10) yang tuntas secara klasikal, sedangkan 3 soal (2, 7, 8) tidak tuntas. Tujuh soal (No 1, 3, 4, 5, 6, 9, dan 10) dalam kategori mudah, 2 soal (7,8) kategori sedang dan 1 soal (2) dalam kategori sukar.

Dari analisis quick count tersebut disusun program perbaikan untuk indikator pada soal nomor 2, 7, dan 8.

Materi

4 Desember, 2013

Template RPP bisa didownload di sini dan dikembangkan lebih lanjut.

Panduan menyusun RPP bisa dibaca pada Permendikbud No 81A dan didownload di sini

Workshop Pembelajaran Berbasis CTL

30 November, 2013

MBS DAN UJIAN NASIONAL

14 April, 2012

Pelaksanaan ujian nasional sudah dimulai bulan Maret  2012 yang lalu.  Berkaitan dengan ujian nasional yang selanjutnya di sebut UN, setidaknya ada tiga agenda utama pembicaraan masyarakat pendidikan; pertama mempersiapkan pelaksanaan ujian nasional yang dilakukan oleh sekolah. Sukses penyelenggaraan dan sukses hasil menjadi target utama. Kedua adalah kekhawatiran tidak lulus UN dari peserta didik dan orang tuanya. Hal ini mendorong mereka untuk menempuh berbagai cara untuk bisa lulus UN. Yang ketiga tidak kalah serunya adalah sekelompok LSM yang mempermasalahkan tentang legalitas penyelenggaraan UN yang dianggap tidak sesuai dengan undang-undang termasuk di dalamnya kebijakan otonomi pendidikan yang dikenal dengan manajemen berbasis sekolah atau MBS.

Baca selengkapnya…

DP3

14 April, 2012

DP3…. semua meyakini bahwa penilaian kinerja pegawai dengan DP3 sekedar formalitas. Model penilaian dengan Performance Management atau Manajemen Kinerja mulai diperkenalkan, seperti penilaian kinerja guru. Tetapi realisasinya, dengan model baru tidak berarti model DP3 ditinggalkan. Jadinya tambah pekerjaan adalah yang terjadi.

Smoga DP3 segera diganti dengan model kinerja yang lebih menggambarkan kualitas kinerja pegawai, sekaligus sebagai wahana meningkatkan kinerja pegawai.

Di samping sudah kadaluwarsa, ukurannya double kwarto…. whualah… luebar dan tidak ekonomis. Saya sudah menggunakan form yang sama dengan ukuran folio(F7)  atau kwarto (A4)  selama hampir 8 tahun. pernah ditolak, tetapi akhirnya dinas dikpora gunungkidul sudah bisa menerimanya.

Yang ingin manfaatkan template dengan Ms Excel silakan download di sini

The Wrong Person in the Wrong Place

26 Februari, 2012

Pendidikan menjadi salah satu bidang yang diotonomikan di tingkat kabupaten/kota (UURI No 32 tahun 2004) yang harapannya, perangkat hukum itu mampu mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususannya. Akan tetapi yang terjadi yang terjadi justru sebaliknya. Otonomi pendidikan ternyata melahirkan sejumlah persoalan baru, dari masalah sarana prasarana sampai ketenagaan (pendidik/ tenaga kependidikan). Baca selengkapnya…

Latihan membuat quiz dengan Google Doc

19 Februari, 2012

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.